.
Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah pada diri Rex.
Dulu, dunia bagi seorang anak adalah tempat untuk bermain, tertawa, belajar, dan merasa aman. Namun setelah sebuah kejadian yang diduga terjadi di lingkungan sekolah, dunia itu perlahan terasa berbeda baginya.
Rex tidak lagi seperti sebelumnya.
Tangisnya datang tiba-tiba. Kadang keras dan sulit ditenangkan. Rasa takut muncul tanpa mudah dijelaskan. Bahkan hal-hal sederhana yang sebelumnya biasa dilakukan, kini terasa berat.
Makan menjadi sulit.
Susu yang dahulu dapat dikonsumsi seperti biasa, kini bahkan tidak selalu mampu diminumnya. Perlahan, kondisi tubuhnya ikut berubah. Berat badannya menurun.
Bagi orang dewasa, perubahan itu mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sederhana. Tetapi bagi seorang anak, kehilangan nafsu makan, menangis tanpa henti, dan ketakutan yang terus muncul dapat menjadi tanda bahwa ada luka yang belum selesai.
Sebelum kejadian, Rex dikenal lebih ceria dan aktif.
Namun setelahnya, ada ketakutan yang seolah menetap.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertemu teman, justru dapat memunculkan rasa cemas. Ruangan tertutup pun menjadi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Seolah-olah rasa aman yang dulu dimilikinya telah pergi bersama sebuah kejadian yang belum mampu ia pahami sepenuhnya.
Hari-hari berlalu, tetapi ketakutan itu belum sepenuhnya hilang.
Rex masih membutuhkan waktu.
Ia membutuhkan orang-orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Ia membutuhkan pelukan, pendampingan, dan lingkungan yang membuatnya kembali percaya bahwa dunia di sekelilingnya dapat menjadi tempat yang aman.
Lebih dari sekadar proses hukum, seorang anak yang diduga menjadi korban juga membutuhkan proses pemulihan.
Sebab keadilan bukan hanya tentang bagaimana sebuah perkara diproses. Keadilan juga tentang bagaimana seorang anak dapat kembali tersenyum, kembali makan dengan tenang, kembali bermain, kembali berani masuk ke sebuah ruangan, dan perlahan menjalani hidup tanpa terus dibayangi rasa takut.
Luka seorang anak tidak selalu terlihat.
Ada luka yang hadir melalui tangisan.
Ada luka yang terlihat dari perubahan perilaku.
Ada luka yang muncul ketika seorang anak tiba-tiba kehilangan nafsu makan dan berat badannya menurun.
Dan ada luka yang hanya dapat dipahami ketika seseorang benar-benar bersedia mendengarkan.
Rex mungkin belum mampu menceritakan semuanya dengan kata-kata.
Tetapi perubahan dalam dirinya telah menjadi sebuah pesan.
Bahwa ada penderitaan yang membutuhkan perhatian.
Bahwa ada ketakutan yang membutuhkan pendampingan.
Dan bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam rasa aman.
Karena pada akhirnya, perlindungan terhadap anak tidak boleh berhenti ketika sebuah kejadian selesai.
Perlindungan harus terus berjalan sampai rasa takut itu perlahan pergi dan seorang anak kembali menemukan dirinya ceria, percaya diri, dan berani menatap hari esok.
Penulis: N.Z

