.
NIAS-Kliksuara.com // Sebanyak 336 siswa SMA Negeri 1 Afulu, Kabupaten Nias Utara, disebut masih menghadapi sejumlah kendala yang berpotensi mengganggu proses belajar mengajar. Dua persoalan yang menjadi sorotan yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut belum berjalan serta pasokan listrik yang kerap padam.
Informasi tersebut disampaikan salah seorang guru SMA Negeri 1 Afulu, Sidayu Zalukhu, S.Pd., saat awak media melakukan kunjungan dan konfirmasi langsung ke sekolah, Senin (24/8/2026).
Menurut keterangan pihak sekolah, hingga saat ini penyaluran MBG bagi siswa SMA Negeri 1 Afulu belum berjalan.
“Sampai saat ini program MBG belum berjalan di sekolah kami. Kami tentu berharap program tersebut segera direalisasikan karena menyangkut kebutuhan siswa,” ujar Sidayu Zalukhu.
Program MBG merupakan salah satu program pemerintah yang diharapkan dapat mendukung pemenuhan gizi peserta didik. Karena itu, belum terlaksananya penyaluran di sekolah tersebut menjadi perhatian pihak sekolah, terutama karena jumlah siswa mencapai 336 orang.
Pihak sekolah berharap pemerintah dan instansi yang memiliki kewenangan segera memberikan penjelasan mengenai penyebab belum berjalan program tersebut, termasuk kapan penyaluran MBG dapat direalisasikan.
“Kami berharap ada kejelasan dari pihak terkait. Kalau memang ada kendala, sebaiknya disampaikan apa kendalanya dan bagaimana solusinya, sehingga sekolah dan siswa tidak terus menunggu,” kata Sidayu.
Selain MBG, persoalan lain yang disebut mengganggu aktivitas pendidikan adalah kondisi listrik yang kerap mengalami pemadaman.
Gangguan tersebut menjadi kendala ketika guru menggunakan perangkat elektronik sebagai penunjang pembelajaran, seperti proyektor atau infokus. Saat listrik padam, proses penyampaian materi menggunakan perangkat tersebut otomatis tidak dapat berjalan maksimal.
“Kalau listrik padam, pembelajaran yang menggunakan infokus atau perangkat elektronik tentu terganggu. Guru harus menyesuaikan kembali metode pembelajaran dengan kondisi yang ada,” ungkap Sidayu.
Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius karena fasilitas pendukung pembelajaran merupakan bagian penting dalam menunjang proses pendidikan yang efektif.
Sekolah berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait tidak hanya menerima laporan, tetapi juga melakukan pengecekan dan mencari solusi konkret terhadap persoalan yang terjadi.
Terlebih, persoalan tersebut menyangkut ratusan siswa yang setiap hari mengikuti proses belajar mengajar di SMA Negeri 1 Afulu.
“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya berharap persoalan yang berkaitan dengan siswa dan proses belajar ini mendapat perhatian. MBG bisa segera berjalan dan persoalan listrik juga ada solusi,” tegas Sidayu.
Secara prinsip, penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara sebagaimana diatur dalam Pasal 31 UUD 1945 serta UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Karena itu, berbagai kendala yang berpotensi menghambat proses pembelajaran patut menjadi perhatian pemerintah dan instansi terkait.
Persoalan di SMA Negeri 1 Afulu diharapkan tidak berhenti pada laporan dan pemberitaan. Pemerintah diminta melakukan pengecekan langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya sekaligus menentukan langkah penyelesaian.
Media ini masih membuka ruang bagi pemerintah daerah, instansi penyelenggara MBG, pihak kelistrikan, maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan resmi mengenai persoalan tersebut.
Hingga berita ini ditayangkan, belum diperoleh tanggapan resmi dari instansi terkait mengenai penyebab belum berjalan program MBG maupun langkah penanganan terhadap pemadaman listrik yang disebut kerap terjadi di SMA Negeri 1 Afulu.
Tim Redaksi: EM Y G

