Menu Atas


KLIK SUARA.COM
Senin, 17 Agustus 2026, Agustus 17, 2026 WIB
Last Updated 2026-08-17T07:25:25Z
Nias Utara

Jalan Rusak Bertahun-Tahun, Warga Botolala Tagih Janji Pemerintah

.


 


NIAS-Kliksuara.com // Puluhan tahun Indonesia merdeka, warga Botolala Uludumula, Kecamatan Alasa, Kabupaten Nias Utara, masih harus bergulat dengan jalan yang jauh dari kata layak.


Badan jalan yang didominasi tanah dan batu, lubang, kubangan lumpur, serta tanjakan dan turunan terjal menjadi pemandangan yang terus dihadapi warga. Saat hujan turun, kondisi semakin parah dan menyulitkan kendaraan melintas.


Jalan ini bukan sekadar akses antarkampung. Warga menyebut ruas Botolala Uludumula menjadi jalur penting yang digunakan masyarakat dari tiga kecamatan dan sedikitnya enam desa, yakni Alasa, Afulu, dan Lahewa Timur.


Petani harus mengeluarkan biaya dan waktu lebih besar untuk membawa hasil bumi menuju pusat ekonomi. Pelajar dan guru juga harus melewati medan sulit untuk menuju sekolah. Akses menuju pelayanan kesehatan pun ikut terdampak.


Kondisi tersebut kembali disuarakan saat Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution berkunjung ke wilayah tersebut pada 11 Agustus 2026. Melalui perwakilan masyarakat, Nefaaro Harefa, warga menyerahkan surat aspirasi pembangunan Jalan Botolala Uludumula kepada gubernur.


“Kami sangat bersyukur karena inilah gubernur pertama sejak Indonesia merdeka yang hadir di tengah-tengah masyarakat untuk mendengarkan aspirasi kami secara langsung. Kami berharap Bapak Bobby Afif Nasution benar-benar melihat kondisi jalan kami dan memberikan perhatian kepada masyarakat yang selama ini terisolasi akibat buruknya infrastruktur,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.


Warga mengaku persoalan jalan tersebut bukan baru terjadi. Menurut mereka, pengukuran oleh tim Dinas PUPR Kabupaten Nias Utara bahkan telah beberapa kali dilakukan.


Warga juga mengungkapkan bahwa pembangunan jalan tersebut pernah menjadi harapan yang disampaikan saat Amizaro Waruwu mencalonkan diri sebagai Bupati Nias Utara periode pertama. Namun, hingga memasuki periode kedua, masyarakat mengaku masih menghadapi persoalan yang sama.


Keterangan mengenai janji politik dan pengukuran tersebut merupakan klaim masyarakat. Pemerintah Kabupaten Nias Utara dan Bupati Nias Utara perlu memberikan klarifikasi mengenai status, kewenangan, perencanaan dan progres penanganan ruas jalan tersebut.


Menunggu pemerintah bukan berarti warga berpangku tangan. Masyarakat, pemuda dan pelajar berulang kali bergotong royong memperbaiki jalan dengan kemampuan seadanya.


Cangkul, kayu dan papan bekas digunakan untuk menutup kerusakan, membersihkan saluran air, meratakan badan jalan hingga membuat jembatan sederhana.


Namun, warga sadar bahwa gotong royong hanya mampu menjadi solusi sementara. Jalan permanen membutuhkan perencanaan teknis, kepastian status dan kewenangan, anggaran serta pekerjaan konstruksi yang terukur.


Warga menegaskan, mereka tidak menuntut jalan mewah. Mereka hanya meminta jalan yang layak, aman dan dapat dilalui sepanjang tahun.


Kini aspirasi telah disampaikan. Surat telah diserahkan. Warga tinggal menunggu apakah pemerintah akan kembali melakukan pengukuran dan menyampaikan janji, atau benar-benar mengambil langkah konkret.


Puluhan tahun menunggu sudah cukup. Warga Botolala Uludumula tidak lagi membutuhkan janji, tetapi kepastian dan tindakan nyata.


Sumber: Expostnews.id, Sinipetnews.id, TabloidNN.com, IndonesiaMonitoring.com

Redaksi: Emanuel Y.G.