Menu Atas


KLIK SUARA.COM
Senin, 10 Agustus 2026, Agustus 10, 2026 WIB
Last Updated 2026-08-10T16:41:10Z
Nias Utara

Setengah Abad dalam Keheningan, Suster Klaris Terus Menjadi Berkat bagi Gereja dan Umat

.


 


NIAS-Kliksuara.com // Lima puluh tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Setengah abad merupakan kesaksian panjang tentang kesetiaan, pengorbanan, doa, dan kasih yang terus dipersembahkan bagi Gereja dan umat. Semangat itulah yang terpancar dalam perayaan 50 Tahun Pelayanan Suster Klaris di Wilayah Paroki St. Fransiskus Asisi Tuhemberua, Kabupaten Nias Utara, Agustus 2026.


Mengusung tema “Berakar dalam Kasih Allah, Bertumbuh dalam Keheningan, Berbuah bagi Kehidupan Gereja dan Dunia”, perayaan emas tersebut menjadi momentum penuh syukur atas perjalanan panggilan para Suster Klaris yang selama lima dekade setia menjalani hidup bakti, doa, dan pelayanan.


Sementara itu, subtema yang diangkat, “Lima Puluh Tahun Menjadi Rahmat – Doa yang Setia Dimurnikan Suka Duka, Lahirkan Kehidupan Baru dan Harapan bagi Generasi Kini dan Masa Depan,” menggambarkan perjalanan panjang yang tidak selalu mudah, namun dijalani dengan ketekunan dan kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan Tuhan.


Suasana perayaan berlangsung khidmat. Alunan musik dan lantunan lagu pujian khas tradisi Katolik menggema di dalam Rumah Tuhan, mengiringi umat yang hadir untuk bersama-sama mensyukuri perjalanan pelayanan Suster Klaris di tanah Nias.


Para Suster yang akrab dikenal dengan sebutan “Suster Gunung” selama ini menjalani kehidupan dalam keheningan biara. Namun, dalam momentum istimewa ini, mereka hadir secara khusus di tengah umat untuk berbagi sukacita sekaligus memberikan kesaksian mengenai panggilan hidup yang telah mereka jalani selama setengah abad.


Perayaan Ekaristi Kudus menjadi puncak kegiatan dan dipimpin langsung oleh Romo Adven, Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Tuhemberua.


Dalam perayaan tersebut, salah seorang perwakilan Suster Klaris mengungkapkan bahwa inti dari kehidupan mereka adalah doa dan persembahan diri bagi Tuhan serta seluruh umat manusia.


“Tugas pokok dan inti keberadaan kami adalah senantiasa berdoa tanpa henti bagi seluruh umat manusia, serta bagi setiap orang yang menaruh pengharapan kepada Tuhan di tengah suka maupun duka kehidupan.”


Pernyataan tersebut menjadi gambaran sederhana sekaligus mendalam tentang spiritualitas yang selama ini mereka hidupi. Dalam kesunyian biara, doa menjadi bentuk pelayanan yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi diyakini menjadi kekuatan rohani bagi kehidupan Gereja dan umat.


Selama lima puluh tahun, kehidupan para Suster Klaris diwarnai dengan keheningan, doa yang tidak terputus, serta berbagai karya tangan yang mendukung kehidupan liturgi Gereja.


Mereka antara lain membuat Rosario, lilin-lilin ibadah, serta menyiapkan Hosti Kudus yang digunakan dalam perayaan Ekaristi. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari persembahan hidup mereka, dilakukan dengan ketekunan, kesederhanaan, dan kerendahan hati.


Sejarah kehadiran komunitas Suster Klaris juga disampaikan oleh Romo Markus. Komunitas tersebut hadir dengan panggilan khusus untuk mendukung pelayanan para imam serta memohon rahmat dan perlindungan Tuhan bagi seluruh umat melalui kehidupan doa yang tulus dan setia.


Sesuai dengan corak hidup tarekat Klaris, para Suster lebih banyak menjalani kehidupan di dalam biara. Mereka mempersembahkan waktu, tenaga, dan seluruh hidup kepada Tuhan melalui doa dan pengabdian.


Namun, perayaan 50 tahun ini menjadi kesempatan khusus bagi mereka untuk menyapa umat secara lebih dekat. Momentum tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada para putri Katolik yang merasakan panggilan hati untuk mengenal lebih jauh kehidupan bakti, kehidupan berkomunitas, serta panggilan menjadi seorang biarawati.


Bagi umat, keberadaan para Suster bukan sekadar bagian dari sejarah Gereja, tetapi juga menjadi sumber kekuatan rohani.


Mewakili umat Stasi Pusat St. Yosef, seorang katekis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih kepada para Suster Klaris atas seluruh doa, pengorbanan, dan karya yang telah dipersembahkan selama ini.


“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para Suster, karena doa, pengorbanan, serta karya kalian telah menjadi kekuatan rohani dan berkat nyata bagi kehidupan kami semua.”


Ungkapan tersebut disambut dengan suasana penuh sukacita. Setelah perayaan selesai, umat berbondong-bondong mengunjungi bazar yang menampilkan berbagai hasil karya tangan para Suster.


Bazar tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi umat untuk memberikan apresiasi, tetapi juga menjadi gambaran nyata bahwa kehidupan dalam keheningan tidak berarti tanpa karya. Dari tangan-tangan sederhana yang bekerja dalam kesunyian, lahir karya yang menjadi berkat bagi banyak orang.


Perayaan 50 tahun pelayanan Suster Klaris akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan sebuah perjalanan sejarah. Ia menjadi perayaan iman, kesetiaan, dan harapan.


Lima puluh tahun adalah perjalanan panjang yang ditempa oleh doa, kesunyian, pengorbanan, suka dan duka. Namun dari perjalanan tersebut lahir sebuah kesaksian bahwa ketika hidup dipersembahkan dengan tulus kepada Tuhan, keheningan pun dapat berbicara dan pelayanan yang tidak selalu terlihat dapat menghasilkan buah bagi banyak orang.


Setengah abad telah berlalu. Namun doa tidak berhenti.


Dari balik tembok biara, dari kehidupan yang sederhana dan penuh keheningan, para Suster Klaris terus mempersembahkan doa bagi Gereja, para imam, umat, keluarga, serta dunia.


Inilah makna emas setengah abad iman: bukan tentang seberapa lama seseorang berjalan, melainkan seberapa setia ia bertahan dalam panggilan dan seberapa banyak harapan yang lahir dari kesetiaannya.


Semoga 50 tahun pelayanan Suster Klaris menjadi rahmat yang terus menghidupkan iman, menguatkan Gereja, serta menyalakan harapan bagi generasi kini dan generasi yang akan datang.


Berakar dalam kasih Allah, bertumbuh dalam keheningan, dan berbuah bagi kehidupan Gereja dan dunia.


Disampaikan untuk: Media Massa, Umat, dan Masyarakat Umum

Sumber: Dokumentasi Perayaan Paroki St. Fransiskus Asisi Tuhemberua & Komunitas Suster Klaris.


Emanuel Y. Gea