.
LANGKAT -Kliksuara.com // Kesabaran masyarakat Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tampaknya telah mencapai batas. Setelah berbulan-bulan menunggu kepastian bantuan pascabencana banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada November 2025, ribuan warga kembali turun ke jalan dalam Aksi Demonstrasi Jilid II, Minggu (27/7/2026).
Lautan manusia memadati Lapangan Sepak Bola PT RGM, Kelurahan Pekan Besitang. Massa yang berasal dari berbagai desa di Kecamatan Besitang datang dengan satu tuntutan utama: kepastian penyaluran bantuan stimulan dan bantuan sosial yang hingga kini dinilai belum juga direalisasikan oleh pemerintah.
Semula aksi direncanakan berlangsung di Jalan Lintas Nasional Medan–Banda Aceh. Namun, demi menghindari kemacetan total yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat luas, titik aksi dipindahkan ke Lapangan RGM. Meski demikian, gelombang kekecewaan warga akhirnya meluas hingga ke Simpang RGM, menyebabkan arus lalu lintas nasional sempat lumpuh akibat blokade massa.
Dalam aksi tersebut hadir Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, Kapolres Langkat AKBP Hannry P.H. Tambunan, S.E., S.I.K., serta unsur Forkopimcam Besitang untuk menemui massa dan meredam ketegangan.
Di hadapan ribuan demonstran, Plt Bupati Langkat berjanji akan membawa perwakilan masyarakat menemui Kementerian Sosial Republik Indonesia pada 4 Agustus 2026 guna menyampaikan langsung aspirasi warga. Ia juga menyatakan akan mendorong Badan Pusat Statistik (BPS) agar proses pendataan dan pencairan bantuan bagi korban banjir dapat segera diselesaikan.
Namun, janji tersebut belum mampu meredakan kekecewaan masyarakat yang mengaku sudah terlalu lama menunggu tanpa kepastian.
Koordinator aksi dalam orasinya menegaskan bahwa korban banjir Besitang telah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian. Menurutnya, sejak bencana besar melanda pada November 2025, masyarakat hanya disuguhi berbagai janji tanpa realisasi yang nyata.
"Kami sudah terlalu lama menunggu. Banjir menghancurkan rumah dan kehidupan kami. Yang kami butuhkan bukan lagi janji, tetapi kepastian kapan bantuan benar-benar diterima masyarakat," tegas koordinator aksi di hadapan ribuan peserta demonstrasi.
Kekecewaan massa semakin memuncak setelah Gubernur Sumatera Utara yang sebelumnya diinformasikan akan hadir ternyata tidak datang. Ketidakhadiran tersebut memicu kemarahan warga yang merasa aspirasi mereka kembali diabaikan.
Usai aksi di Lapangan RGM, massa bergerak menuju Simpang RGM di sekitar Kantor Camat Besitang. Aksi lanjutan itu mengakibatkan Jalan Lintas Nasional Medan–Banda Aceh sempat tidak dapat dilalui kendaraan sehingga antrean panjang terjadi dari kedua arah.
Meski situasi sempat memanas, aparat kepolisian bersama TNI dan unsur pemerintah tetap melakukan pengamanan serta membuka ruang dialog agar aksi tidak berkembang menjadi tindakan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kapolres Langkat AKBP Hannry P.H. Tambunan mengimbau seluruh peserta aksi untuk tetap menyampaikan aspirasi secara damai dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum.
"Kami menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Namun kami berharap seluruh peserta tetap menjaga ketertiban, mengedepankan dialog, dan bersama-sama menjaga situasi agar tetap aman serta kondusif," ujarnya.
Aksi ini merupakan demonstrasi kedua yang dilakukan masyarakat Besitang. Sebelumnya, warga telah menyampaikan tuntutan serupa melalui aksi di Kantor Bupati Langkat, Stabat. Namun hingga kini mereka menilai belum ada kepastian mengenai realisasi bantuan yang dijanjikan.
Di penghujung aksi, masyarakat kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti memperjuangkan hak-haknya apabila pemerintah masih belum memberikan kepastian mengenai bantuan pascabanjir.
Warga berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata, bukan sekadar menyampaikan komitmen di atas kertas. Bagi ribuan korban banjir Besitang, bantuan yang dijanjikan bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan harapan untuk kembali membangun kehidupan yang sempat porak-poranda akibat bencana.
(Adi)

