Menu Atas


KLIK SUARA.COM
Senin, 11 Mei 2026, Mei 11, 2026 WIB
Last Updated 2026-05-11T06:00:39Z
Hutan mangrovePanaran

Perusakan Hutan Mangrove dan Penebangan Gunung di Panaran Tembesi: Berani Bermain, Bertentangan Dengan Seruan Walikota Batam

.

 


BATAM-Kliksuara.com // Kondisi lingkungan di wilayah Panaran, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, kini berada di ambang kehancuran. Hutan mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami dan paru-paru kota, dibantai habis-habisan oleh oknum pengusaha yang beroperasi di lokasi tersebut. Perusakan ini tidak hanya berhenti pada hutan bakau saja, namun juga meluas hingga merambah ke kawasan bukit dan gunung di sekitarnya, di mana keindahan serta ekosistem gunung ikut dibabat habis seolah tak ada aturan yang berlaku, Senin (11/5/2026).

 

Aktivitas perusakan ini nyatanya sempat dihentikan beberapa waktu lalu akibat sorotan dan laporan masyarakat. Namun, belakangan ini kegiatan tersebut kembali beroperasi dengan semakin leluasa, bahkan terlihat berani dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa takut akan sanksi hukum. Padahal, lokasi kerusakan ini berada sangat dekat dengan pemukiman warga, sehingga dampak buruknya langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar setiap harinya.

 

Keluhan terbesar dan paling mendesak datang dari para nelayan setempat. Aktivitas penimbunan tanah dan material yang dilakukan pihak pengusaha berlangsung semakin gencar dan tak terkendali. Akibat penimbunan yang memenuhi kawasan perairan itu, akses keluar masuk perairan kini tertutup total. Perahu-perahu milik nelayan dikepung dan terperangkap di tengah timbunan tanah, membuat mereka tidak bisa melaut untuk mencari nafkah.

 

“Kami sudah tidak bisa keluar sama sekali. Perahu kami dikepung oleh timbunan tanah ini, jalan air tertutup rapat. Kemana lagi kami harus mengadu? Semakin hari kondisinya makin parah, kami buntu dan tak tahu harus bagaimana lagi,” ujar salah satu nelayan dengan nada penuh kekesalan dan keprihatinan.

 

Keresahan warga bukan hanya soal akses yang tertutup, namun juga perilaku para pekerja di lokasi yang dinilai kurang peduli dan cenderung mengabaikan hak serta kenyamanan warga sekitar. Mereka merasa tidak didengar, sementara aktivitas perusakan terus berjalan tanpa henti.

 

Kondisi yang terjadi di lapangan ini justru sangat kontradiktif dengan langkah dan seruan yang disampaikan Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. Belum lama ini, Amsakar Achmad bahkan turun langsung menanam 2.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata di kawasan pesisir, sebagai bentuk nyata kepedulian dan upaya pelestarian lingkungan hidup.

 

Saat kegiatan penanaman berlangsung, Amsakar Achmad menegaskan dengan tegas, “Melindungi mangrove sama dengan menjaga masa depan. Pembangunan harus berjalan, tetapi lingkungan juga wajib dijaga agar tetap lestari dan tidak dirusak demi keuntungan sesaat.”

 

Namun kenyataan yang ada di lokasi Panaran justru berbanding terbalik. Di saat pemerintah daerah gencar melakukan penghijauan dan mengajak menjaga lingkungan, di waktu yang sama ada pihak yang justru membantai hutan mangrove dan merusak struktur alam gunung secara sembarangan. Hal ini menunjukkan jelas adanya pembangkangan dan ketidakpatuhan nyata terhadap arahan serta kebijakan yang telah disampaikan oleh Wali Kota Batam.

 

Para nelayan dan warga sekitar sangat berharap, melalui pemberitaan ini, suara mereka akhirnya didengar oleh pihak berwenang. Kerugian yang mereka alami bukan hanya sekadar gangguan kenyamanan, namun serangan langsung terhadap mata pencaharian mereka yang menggantungkan hidup dari laut.

 

“Kami sangat terganggu dan sangat dirugikan. Kami berharap ada perhatian serius, ada tindakan nyata yang menghentikan semua ini. Jangan sampai seruan menjaga lingkungan hanya menjadi kata-kata saja, sementara di bawahnya alam kami dihancurkan habis-habisan,” tutup singkat pernyataan warga yang mewakili harapan seluruh masyarakat terdampak.

 

Kini mata publik tertuju pada penindakan aparat dan tanggung jawab pemerintah daerah, apakah perusakan lingkungan yang nyata ini akan dibiarkan terus berlanjut, atau aturan dan kebijakan pelestarian lingkungan benar-benar ditegakkan demi masa depan Batam yang lestari.


Penulis: N.Z