.
BATAM-Kliksuara.com // Nama Ketua DPRD Kepulauan Riau, Iman Sutiawan, belakangan ini menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Sebuah video yang merekam dirinya mengendarai sepeda motor tanpa helm beredar luas di media sosial, memicu gelombang kritik, kekecewaan, hingga penghakiman tajam dari berbagai kalangan. Sebagai pejabat publik, sorotan dan teguran memang menjadi risiko yang harus ditanggung, dan kesalahan yang terjadi pun sepatutnya menjadi bahan evaluasi bersama. Namun di tengah derasnya hujatan yang menyelimuti namanya, ada sisi lain dari sosok Iman Sutiawan yang nyaris tertutup, yakni jejak panjang pengabdian dan perhatiannya terhadap masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pinggiran dan pulau-pulau terluar di Kepri.
Kasus pelanggaran lalu lintas itu sendiri sudah ditindak tegas oleh aparat kepolisian tanpa adanya perlakuan istimewa. Seperti ditegaskan Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono, penindakan dilakukan sejak Kamis, 7 Mei 2026, di kawasan Simpang Rosedale, Pos 908. Saat dihentikan, Iman tidak hanya kedapatan tidak menggunakan helm, tetapi juga tidak dapat menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM), hanya membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Proses tilang langsung diterapkan sesuai peraturan yang berlaku, menegaskan prinsip bahwa di mata hukum, seluruh warga negara memiliki kedudukan yang sama, tidak peduli jabatan atau kedudukannya. Kesalahan sudah diakui, proses hukum sudah berjalan, dan hal itu sepatutnya menjadi batas antara penegakan aturan dan penilaian menyeluruh terhadap seseorang.
Sayangnya, di dunia maya, satu kesalahan sering kali dijadikan patokan tunggal untuk menilai seluruh kepribadian dan perjalanan hidup seseorang. Padahal, jauh sebelum kasus ini terjadi, Iman Sutiawan dikenal sebagai sosok yang kerap turun langsung ke lapangan, mendekatkan diri kepada masyarakat yang jarang disentuh perhatian. Wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan daerah terisolasi di Kepri menjadi fokus utama kegiatannya. Ia aktif menyalurkan bantuan sosial, paket sembako, santunan bagi anak yatim, hingga memperjuangkan aspirasi warga kecil melalui kegiatan reses dan kunjungan kerja yang rutin dilakukan.
Salah satu bukti nyata kepeduliannya terlihat jelas di Pulau Kasu, kampung halamannya di Kecamatan Belakang Padang, Batam. Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan yang dialami warga setempat, Iman berinisiatif mendorong pembangunan Pondok Pesantren Nurul Iman. Bagi masyarakat di sana, bangunan itu bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan simbol harapan. Kini, anak-anak di pulau itu bisa menempuh pendidikan agama yang layak tanpa harus meninggalkan keluarga dan kampung halaman mereka. Ia terlihat sangat aktif memantau perkembangan pembangunan tersebut, serta mengajak masyarakat dan pemerintah provinsi untuk sama-sama mendukung kelancaran fasilitas pendidikan dan kesejahteraan warga di wilayah pesisir.
Selain bidang pendidikan, perhatiannya juga tersalurkan ke sektor lain yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Ia kerap menyuarakan dan memberikan bantuan bagi para nelayan yang menjadi tulang punggung ekonomi pesisir, mendorong kepemilikan jaminan sosial ketenagakerjaan (BPJS) bagi warga, serta terus memperjuangkan perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan di kawasan pulau-pulau penyangga. Berbagai kegiatan ini dilakukan secara konsisten, namun nyaris tidak pernah menjadi berita utama atau viral di media sosial. Tidak ada kerumunan kamera yang merekam saat ia membagikan bantuan, tidak ada sorotan lampu saat ia mendengarkan keluh kesah warga, dan tidak ada pujian besar yang terdengar saat aspirasi masyarakat berhasil diperjuangkan.
Fenomena ini menunjukkan satu hal yang nyata: kebaikan sering kali berjalan diam-diam, sementara kesalahan mudah sekali disebarluaskan dan dibesar-besarkan. Padahal, manusia adalah gabungan dari banyak sisi—ada kelebihan, ada kekurangan, ada prestasi, dan ada juga khilaf. Dalam sistem demokrasi, mengawasi dan mengkritik pejabat publik adalah hak sekaligus kewajiban warga negara. Kritik yang membangun justru akan menjadikan penyelenggara negara lebih waspada dan berhati-hati. Namun, kritik yang sehat tidak seharusnya menghapus seluruh jasa atau pengabdian yang telah diberikan seseorang kepada masyarakat.
Iman Sutiawan memang berbuat salah, dan ia sudah menerima konsekuensinya sesuai hukum yang berlaku. Namun di balik kesalahan itu, ada rekam jejak panjang perhatian bagi masyarakat kecil, ada upaya memajukan pendidikan di pulau terpencil, dan ada kepedulian yang selama ini diberikan tanpa banyak menuntut pengakuan. Sejarah dan penilaian publik sebaiknya tetap seimbang: menghukum kesalahan yang ada, namun tidak lupa melihat sisi kebaikan dan pengabdian yang telah disumbangkan demi kepentingan orang banyak. Karena bisa jadi, sosok yang hari ini ramai dihujat, adalah sosok yang diam-diam pernah menjadi penolong bagi ribuan orang yang membutuhkan.

