.
Nias-Kliksuara.com // Program bantuan pemerintah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2025 di SDN 071025 Helera kini menjadi sorotan publik. Proyek dengan nilai anggaran fantastis mencapai Rp2.139.163.963,- tersebut diduga tidak dilaksanakan sesuai ketentuan teknis, memicu keluhan dari warga setempat, Sabtu (14/2/2026).
Dugaan tersebut mencuat setelah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan menghubungi awak media pada Sabtu, (7/2/2026) ia mengungkapkan adanya kejanggalan pada pekerjaan pengecoran lantai satu bangunan sekolah.
Menurutnya, hasil pengecoran tampak mengalami banyak keretakan, bahkan pada bagian yang baru selesai dikerjakan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait kualitas pekerjaan konstruksi yang dibiayai dari anggaran negara.
Warga tersebut juga menyoroti proses pencampuran material semen, pasir, dan batu pecah yang diduga tidak mengikuti standar teknis. Dalam praktik umum konstruksi, perbandingan campuran beton yang lazim digunakan adalah 1:2:3—yakni satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian batu pecah—guna menghasilkan struktur beton yang kuat dan tahan lama. Namun, di lapangan, campuran yang digunakan diduga tidak sesuai standar tersebut.
Tak berhenti di situ, ia juga mempertanyakan penggunaan merek semen yang disebut berbeda dari perencanaan awal. Perubahan tersebut menimbulkan dugaan adanya penurunan mutu pekerjaan.
"Proyek ini merugikan kualitas bangunan dalam jangka panjang, sementara pelaksanaan kegiatan pengecoran di lakukan dua hari kerja, sehingga besar kemungkinan hasil untuk jangka panjang tidak akan bertahan lama," ucapnya
Sorotan juga mengarah pada aspek perencanaan pembangunan. Pembangunan fasilitas WC yang berada di tengah halaman sekolah dinilai kurang tepat dan berpotensi mengganggu aktivitas belajar mengajar. Penempatan fasilitas tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kajian teknis dan perencanaan desain proyek.
Awak media telah melakukan konfirmasi kepada Ketua Tim Pembangunan pada Minggu, 8 Februari 2026, melalui pesan WhatsApp. Namun, tanggapan yang diberikan dinilai tidak selaras dengan temuan di lapangan. Bahkan, yang bersangkutan disebut meminta agar data pribadinya tidak dipublikasikan.
Hingga berita ini diterbitkan, tanggapan resmi dari pihak pengawasan dalam Program Revitalisasi Satuan Pendidikan belum dapat dipublikasikan. Awak media menyatakan akan kembali melakukan upaya konfirmasi guna memastikan klarifikasi dari seluruh pihak terkait.
Publik kini menunggu transparansi dan akuntabilitas atas pelaksanaan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut, demi menjamin bahwa pembangunan sarana pendidikan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi peserta didik dan masyarakat.
Emanuel Y Gea

