Menu Atas


KLIK SUARA.COM
Sabtu, 07 Februari 2026, Februari 07, 2026 WIB
Last Updated 2026-02-07T11:52:04Z
Jonrius Sinurat S.H

Jonrius Sinurat Teringat Sosok Almarhum Ayahnya Usai Dinyatakan Lulus Sarjana Hukum

.

 


Batam-Kliksuara.com // Jarum jam bergerak pelan menuju petang ketika pintu ruang peradilan semu Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) tertutup rapat. Udara terasa lebih berat dari biasanya meskipun ruangan ber-AC. Di dalam ruangan itu, seorang ayah, seorang suami, seorang anak, sedang mempertaruhkan akhir dari perjalanan panjangnya.


Namanya, Jonrius Sinurat.


Di hadapannya tergeletak skripsi setebal ratusan halaman. Judulnya tentang Undang-Undang Pers, tentang perlindungan wartawan, tentang kemerdekaan berbicara. Tetapi sore itu, naskah itu terasa seperti ringkasan dari hidupnya sendiri: perjuangan, risiko, harapan.


Pertanyaan demi pertanyaan dari penguji datang. Ia menjawab. Kadang tegas, kadang lirih. Tangannya sesekali menggenggam, seolah menahan gemetar yang tak ingin terlihat.


Di luar ruangan, dua anaknya, Cornelius Nielsen Sinurat (12) dan Nelly Laurentia Sinurat (8), tetap setia menemani sang Ayah sambil menunggu hasil dari perjuangannya selama ini. Mereka tahu, ini bukan sekadar ujian. Ini adalah mimpi Ayahnya.


Ketika sesi penilaian tiba, ruangan mendadak sunyi.


Ketua Penguji, Dr. (c.) Winda Roselina Effendi, S.I.P., M.I.P., didampingi Anggota Penguji I, Dr. Seftia Azrianti, S.H., M.H. dan Anggota Penguji II, Rabu, S.H., M.H. membuka catatan. Suaranya tenang, tapi setiap katanya menghantam langsung ke dada Jonrius.


“Memang tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tapi skripsi Pak Jonrius ini salah satu yang menganalisis dengan baik,” kata Winda.


Jonrius menunduk. Ia mencoba menahan air yang mulai menggenang di pelupuk mata.


Ketua penguji melanjutkan.


“Bapak tidak hanya mengutip wawancara. Bapak hadir sebagai peneliti. Ada data primer, ada data sekunder. Secara keseluruhan sudah sesuai dengan kaidah penulisan,” ucap Ketua Penguji.


Kalimat itu seperti memutar kembali semua adegan hidupnya: malam-malam tanpa tidur, waktu bersama keluarga yang terpotong, rasa ragu yang pernah datang diam-diam.


Dan kemudian, tibalah putusan.


“Saudara Jonrius Sinurat dinyatakan lulus dengan nilai sangat memuaskan. Selamat, Bapak Jonrius Sinurat, S.H.”


Seolah ada sesuatu yang runtuh dari langit-langit dadanya.


Jonrius menghembuskan napas panjang. Seketika terdiam, seakan tidak percaya perjuangannya sudah berakhir. Ia lulus.


Ia bukan hanya mahasiswa yang berhasil mempertahankan skripsi. Ia adalah kepala keluarga yang membawa pulang kemenangan. Ia adalah anak yang ingin membanggakan ibunya. Ia adalah suami yang berjanji bahwa perjuangan ini akan selesai.


“Puji Tuhan…,” hanya itu yang mampu ia ucapkan.


Cornelius masuk ke ruangan lebih dulu. Ia memeluk ayahnya. Nelly mengikuti. Di tengah ruang akademik yang formal, cinta keluarga mengambil alih segalanya.


“Kami bangga sama Bapak,” bisik mereka.


Mungkin tidak semua orang mendengarnya. Tapi Jonrius mendengar. Jelas sekali.


Sang istri, Lianni Nababan, memang tak bisa hadir karena kewajiban pekerjaan. Namun dukungan yang ia kirimkan terasa nyata.


“Perjuangan ini kami jalani bersama. Hari ini Tuhan menjawab,” katanya.


Kabar kelulusan itu cepat menyebar. Dari pimpinan kampus hingga sahabat, ucapan selamat datang silih berganti.


Rektor UNRIKA, Prof. Dr. Hj. Sri Langgeng Ratnasari, S.E., M.M., menyebut keberhasilan itu sebagai bukti bahwa ketekunan selalu menemukan jalannya.


Dekan Fakultas Hukum, Dr. Dwi Afni Mailani, S.H., M.H., menilai hasil tersebut adalah buah dari kegigihan yang panjang.


Kaprodi Ilmu Hukum, Dr. Rizki Tri Anugrah Bhakti, S.H., M.H., percaya Jonrius akan membawa nama baik almamater di tengah masyarakat.


Namun semua ucapan itu masih menyisakan satu kejutan paling dalam.


Tiga jam setelah sidang selesai, telepon dari sang ibu berdering.


Tidak ada yang memberi tahu beliau tentang ujian hari itu. Ia hanya merasa ingin mendengar suara anaknya.


Begitu Jonrius berkata, “Mak, aku sudah lulus. Sudah Sarjana Hukum,” di seberang sana langsung terdengar ucapan syukur.


Jonrius kemudian menirukan kata-kata ibunya, dengan logat yang akrab di telinganya sejak kecil.


“Berarti ini gerakan batin. Aku tidak tahu, cuma mau tanya kabarmu saja tadi.”


Jonrius terdiam lama setelah panggilan itu berakhir karena terbayang kepada almarhum Ayahnya yang tidak bisa menyaksikan keberhasilannya itu.


Di dunia ini, mungkin memang ada cinta yang tidak perlu diberi kabar. Ia selalu tahu kapan harus datang.


Senja turun perlahan di halaman kampus. Jonrius berdiri di antara kedua anaknya, dikelilingi teman-teman seperjuangan. Kamera menangkap senyum, pelukan, tawa yang pecah setelah sekian lama ditahan.


Ia menatap gedung itu sebentar.


Tempat ia lelah.

Tempat ia belajar.

Tempat ia menang.


Hari itu, namanya berubah.


Jonrius Sinurat, S.H.


Dua huruf kecil, namun di belakangnya ada doa seorang ibu, cinta seorang istri, pelukan anak-anak, dan seorang lelaki yang tidak pernah berhenti percaya bahwa ia bisa sampai di garis akhir.