.
![]() |
Nias, tempat peristrahatan terakhir. |
BATAM — Kliksuara.com // Kota Batam menjadi saksi perjalanan seorang pemuda sederhana yang hampir lima tahun mengadu nasib di tanah rantau. Ia datang dengan harapan, menjalani hari-hari dengan penuh kesederhanaan, dan pergi meninggalkan kenangan yang tidak akan pernah tergantikan.
Pemuda itu adalah Susanto Putra Zega, anak bungsu dari lima bersaudara. Sosok yang bagi keluarganya bukan sekadar seorang saudara, melainkan bagian penting dari kehidupan yang kepergiannya meninggalkan ruang kosong begitu dalam.
Selama berada di Kota Batam, Susanto dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak ingin menyusahkan orang-orang di sekelilingnya. Ia menjalani kehidupan sebagai perantau dengan segala perjuangan dan harapan, hingga akhirnya takdir berkata lain.
Pada Selasa, 19 Agustus 2025, Susanto harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Embung Fatimah, Kota Batam, dan ditempatkan di ruang ICU.
Bagi keluarga, ICU menjadi ruangan yang begitu menakutkan. Di sana terdengar suara mesin monitor pasien, ventilator sebagai alat bantu pernapasan, selang-selang medis, manset tekanan darah hingga oksimeter yang terus memantau kondisi tubuhnya.
Di tengah kondisi yang semakin lemah, keluarga hanya mampu memberikan semangat.
Tak banyak kata yang dapat terucap. Suara Susanto seakan telah hilang. Namun, air mata masih jatuh dari matanya. Air mata yang menjadi saksi atas rasa sakit dan perjuangan yang sedang ia jalani.
Selama sembilan hari, keluarga terus berharap dan berdoa agar Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk kembali pulih.
Namun, harapan itu akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan.
Rabu, 27 Agustus 2025, sekitar pukul 14.00 WIB, menjadi salah satu hari yang paling berat bagi keluarga. Saat itu, mereka masih sempat menjenguk dan melihat Susanto terbaring di ruang perawatan.
Air mata yang terlihat hari itu ternyata menjadi air mata terakhir.
Tidak lama kemudian, Susanto mengembuskan napas terakhirnya di usia yang masih sangat muda, 24 tahun.
Kepergiannya meninggalkan luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Hancur. Seakan suara di sekeliling tidak terdengar lagi. Air mata tidak terbendung. Tuhan, apakah ini nyata? Mengapa di usia saudara kami yang masih 24 tahun, Engkau tidak memberikan dia kesempatan?”
Begitulah curahan hati seorang abang yang hingga kini masih sulit menerima kepergian adiknya.
Satu bulan satu hari telah berlalu tanpa suara Susanto. Tidak ada lagi sosok yang bisa dipanggil ketika membutuhkan bantuan. Tidak ada lagi adik yang bisa diminta mengerjakan sesuatu ketika keluarga membutuhkan pertolongan.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
“Apa kabarmu, saudaraku? Hati ini rindu. Rinduku padamu tak pernah usai, meski waktu terus berlalu. Rasanya masih sulit menerima kenyataan bahwa kau telah pergi.”
Kalimat itu menjadi ungkapan hati seorang abang yang selama ini mungkin sering menegur dan mengingatkan Susanto. Teguran yang dulu terkadang tidak diterima dengan baik, kini justru menjadi kenangan yang paling dirindukan.
Ada satu tempat yang juga menyimpan kenangan terakhir bersama Susanto, Piayu Laut.
Di tempat itu, mereka pernah duduk bersama dan makan bersama. Sebuah momen sederhana yang dahulu mungkin dianggap biasa, namun kini menjadi kenangan yang begitu berharga.
Ironisnya, pada bulan yang sama, Agustus, Susanto justru dipanggil oleh Sang Pencipta.
Batam, kota sejuta kenangan, menjadi tempat Susanto berjuang mencari kehidupan sekaligus menjadi saksi perjalanan terakhirnya sebelum kembali kepada Tuhan.
Kini, tanah rantau yang dahulu menjadi tempatnya mengadu nasib harus rela kehilangan seorang pemuda sederhana yang pernah mengisinya dengan perjuangan dan cerita.
Keluarga hanya bisa mengikhlaskan dengan hati yang berat. Ada rindu yang tidak akan pernah selesai, ada kenangan yang tidak akan pernah hilang, dan ada nama yang akan selalu hidup di dalam hati.
Selamat jalan, Susanto Putra Zega.
Pulau Nias, tanah yang selalu dinanti-nantikan, akhirnya menjadi tempat kepulanganmu.
Bukan lagi sebagai seorang perantau yang mengejar harapan, tetapi sebagai seorang anak, saudara, dan bagian dari keluarga yang pulang untuk selamanya.
Terima kasih telah menjadi saudara yang luar biasa.
Namamu mungkin telah tiada di hadapan mata, tetapi kenangan tentangmu akan tetap tinggal di hati kami.
Selamat jalan, saudaraku.
Doa kami akan selalu menyertaimu.
— Dari abangmu yang akan selalu merindukanmu. N.Zega

